Gaya Bahasa dalam Pepatah Adat Masyarakat Petalangan Riau
DOI:
https://doi.org/10.31503/madah.v10i2.18Keywords:
Petalangan, pepatah adat, gaya bahasaAbstract
Petalangan is one of the original tribes in Riau Province who live in Pengkalan Kuras, Langgam, Kuala Kampar, and Bunut Subdistrict, Pelalawan Regency. Petalangan tribe has various cultures in the traditions of life. A good introduction to cultural heritage by the next generation can strengthen the nation's tradition in responding to the increasingly severe challenges of the future in this era of globalization. Cultural heritage in the form of moral-spiritual inheritance, one of which is obtained and known through the tradition of belief in the traditional proverb that exists in the community. The traditional adage in the Petalangan community, among others, explains the perspective on community life. This study aims to describe the style of language in the customary proverb that is related to the perspective of life in society. This research uses a qualitative approach with descriptive analysis method. The data source used was the book entitled Pepatah Adat, Istilah, dan Kosa kata Masyarakat Petalangan Kabupaten Pelalawan, Riau. There are 16 traditional proverbs used as data in this study, which then obtained 3 language styles based on sentence structure and 2 language styles based on meaning. By knowing and learning the style of language in this traditional proverb, the philosophy of life and aesthetic tastes of the people of Riau can be understood. Abstrak Petalangan merupakan salah satu puak asli di Provinsi Riau yang bermukim di Kecamatan Pengkalan Kuras, Langgam, Kuala Kampar, dan Bunut, Kabupaten Pelalawan. Suku Petalangan ini memiliki beraneka kebudayaan dalam kehidupan. Pengenalan yang baik terhadap warisan kebudayaan oleh generasi penerus dapat memperteguh tradisi bangsa dalam menjawab tantangan masa depan yang semakin berat dalam era globalisasi ini. Warisan kebudayaan yang berupa warisan moral-spiritual, satu di antaranya didapatkan dan diketahui keyakinan terhadap pepatah adat yang ada pada masyarakat. Pepatah adat dalam masyarakat Petalangan antara lain menjelaskan cara pandang mengenai hidup bermasyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gaya bahasa di dalam pepatah adat yang berhubungan dengan cara pandang dalam hidup bermasyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah buku Pepatah Adat, Istilah, dan Kosa kata Masyarakat Petalangan Kabupaten Pelalawan, Riau. Terdapat 16 pepatah adat yang dijadikan data dalam penelitian ini, yang kemudian diperoleh 3 gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan 2 gaya bahasa berdasarkan makna. Dengan mengetahui dan mempelajari gaya bahasa dalam pepatah adat ini dapat dipahami filsafat hidup dan cita rasa estetika masyarakat Riau.References
Effendy, Tenas, D. (2005). Lintasan Sejarah Pelalawan (Dari Pekantua ke Kabupaten Pelalawan). (H. T. Effendy, M. Hasbi, & S. Shomary, Eds.). Pekanbaru: Pemerintah Kabupaten Pelalawan.
Gustiranto. (2017). Nilai-Nilai Tradisional Tolak Bala Di Desa Betung Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan. JOM FISIP, 4(1), 1—13. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/206200-nilai-nilai-tradisionaltolak-bala-di-de.pdf
Hasbullah, Toyo, & Pami, A. A. A. (2017). Ritual Tolak Bala pada Masyarakat Melayu (Kajian pada Masyarakat Petalangan Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan). Jurnal Ushuluddin, 25(1), 83—100. https://doi.org/10.24014/jush.v25i1.2742
Kang, Y. (2006). “Staged†Rituals and “Veiled†Spells: Multiple Language Ideologies and Transformations in Petalangan Verbal Magic. Journal of Linguistic Anthropology, 16(1), 1—22. https://doi.org/10.1525/jlin.2006.16.1.001
Kang, Y. (2007). Unintelligibility and Imaginative Interpretation in a Petalangan Healing Ritual. Text and Talk, 27(4), 409—433. https://doi.org/10.1515/TEXT.2007.018
Keraf, G. (2006). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Koentjaraningrat. (1990). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Latif, S. (2011). Kamus Bahasa Melayu. Pekanbaru: Yayasan Taman karya Riau.
Pradopo, R. D. (1997). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah mada University Press.
Pusat Bahasa, T. P. K. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Dendy Sugono, Ed.) (IV). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Rosdah, A. (2017). Kearifan Lokal Desa Sialang Jaya dalam Tradisi Lubuk Larangan di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. JOM FISIP, 4(2), 1—15. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/206930-kearifan-lokalmasyarakat-desa-sialang-j.pdf
Santoso, T. (2007). Diksi dan Pola Sintaksis dalam Pepatah Aceh. Humaniora, 19(3), 309—316. https://doi.org/https://doi.org/10.22146/jh.v19i3.913
Semi, M. A. (2012). Metode Penelitian Sastra. Bandung: CV Angkasa.
Syafi’i, M., Auzar, Sukendi, & Firdaus, L. N. (2017). Indigenous Knowledge of Petalangan in Conserving Tesso Nilo National Park, Riau, Indonesia. In International Conference on Environment and Technology (IC-Tech) 2017 (p. 1— 7). Pekanbaru: Institute of Physics Publishing. https://doi.org/10.1088/17551315/97/1/012027
Syamsi, M. (2008). Pepatah Adat, Istilah, dan Kosa kata Masyarakat Petalangan Kabupaten Pelalawan. Bandar Petalangan: Lembaga Adat Petalangan.
Tarigan, H. G. (1985). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tarmizi, A., & Kurniawan, A. (2017). Model Administrasi Pribumi Masyarakat Adat Melayu Petalangan di Desa Sialang Godang Kabupaten Pelalawan Riau. In Seminar Nasional “Mitigasi dan Strategi Adaptasi Dampak Perubahan Iklim di Indonesia†(p. 165—177). Pekanbaru: Program Studi Magister Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Islam Riau. https://doi.org/978979-3793-71-9
Wahyuni, D. (2016). Kreativitas Berbahasa dalam Sastra Anak Indonesia. Madah, 7(2), 127—146. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31503/madah.v7i2.423
Wikipedia. (2016). Suku Petalangan. Retrieved from https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Petalangan
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
The author who published an article in the Madah journal has agreed on the following points.
- Author retain copyright and grant the journal of first publication with the work simultaneously licenced under Creative Commons Atribution Licence (CC BY-NC-SA 4.0) that allows other to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are allowed to publish articles that have been published by the Journal of Madah through separate contractual agreements for non-exclusive dissemination (e.g, placing them into an institutional repository or publishing them in a book) by keeping the first issue in the Madah journal.
- Authors are permitted and encouraged to disseminate their work in cyberspace (e.g, in institutional repositories or author pages) before and during the submission of the text document as it can support productive exchange of earlier and broader credits.







