Toponymic Lexicon of River Culture in Central Kalimantan: An Ethnosemantic Study
DOI:
https://doi.org/10.31503/madah.v11i2.227Keywords:
leksikon, budaya sungai, toponimi, Kalimantan TengahAbstract
AbstrakMasyarakat Kalimantan Tengah yang mayoritas tinggal di sepanjang daerah aliran sungai besar, menjadikan sungai sebagai sesuatu yang penting dalam sendi-sendi kehidupan mereka. Budaya sungai yang dianut oleh masyarakat Kalimantan Tengah dapat dilihat dari leksikon-leksikon yang terkandung dalam toponimi wilayah. Penelitian ini berusaha mendeskripsikan leksikon-leksikon yang muncul dari budaya sungai yang tercermin dalam toponimi Kalimantan Tengah sehingga karakteristik masyarakatnya dapat terungkap. Penelitian ini mengungkap karakteristik budaya sungai Kalimantan tengah dari segi penamaan wilayah. Pendekatan etnosemantik digunakan untuk mengupas hubungan antara bahasa, budaya, dan pola pikir masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa cara menamai suatu wilayah di Kalimantan Tengah dipengaruhi oleh anatomi sungai yang terletak di hulu, tengah, dan hilir. Selain itu, sistem pengetahuan dan sistem kepercayaan juga turut berperan serta dalam penamaan toponim di Kalimantan Tengah. AbstractRivers have a significant role in the life of most of Central Kalimantan people living along riverbanks. Their river culture is reflected from their toponymic lexicon. The purpose of this study was to describe the lexicon of their river culture which is reflected from the toponyms found in Central Kalimantan in order to reveal their characters. Ethnosemantic approach was employed to reveal the relationship among language, culture, and mindset of the society. Data collection was carried out by means of interview method. The result of this study shows that the toponyms in Central Kalimantan was influenced by river’s anatomy i.e. upstream, middle and downstream Furthermore, it was also influenced by knowledge and belief systems.References
Arifin, F. (2015). Representasi Simbol Candi Hindu Dalam Kehidupan Manusia: KajianLinguistik Antropologis. Jurnal Humaniora, 16(2), 12–20.
Baihaqie, I. (2013). Etnolinguistik TelaahTeoritis dan Praktis. Jakarta: Cakrawala Media.
Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. New York: Cambridge University Press.
Forde, C. D. (1963). Habitat, Economy, and Society. New York: Button.
Humaini, A. (2007). Leksikon untuk Unta dalam Bahasa Arab Kajian Etnosemantik. Universitas Negeri Yogyakarta.
Kramsch, C. (2001). Language and Culture. New York: Oxford University Press.
Miftah, Y. (2008). Fenomena Geografis di Balik Nama-nama Tempat (Toponim) di Wilayah Kota Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia.
Pateda, M. (2010). Semantik Leksika. Jakarta: Rineka Cipta.
Rais, J., Lauder, Multamia R. M. T., Sudjiman, P., Ayatrohaedi, Sulistiyo, B., Wiryaningsih, A. Suparwati, T., & Santoso, W. E. (2008). Toponimi Indonesia: Sejarah Budaya yang Panjang dari Permukiman Manusia dan Tertib Administrasi. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sudaryanto. (1996). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa (Pengantar Penelitian Kebudayaan secara Linguistik). Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sutopo, H. . (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan Terapannya. Surakarta: UNS Press.
Utami, G. W. N. (2017). Relasi MaknaLeksikon Tiing dalam Bahasa Bali BerbasisLingkungan. Jurnal Litera Bahasa DanSastra, 3(1), 67–77.
Yayuk, R. (2018). Leksikon Pengungkap Karakteristik Budaya Sungai Masyarakat Banjarmasin dan Nagara: Telaah Etnosemantis. Naditira Widya, 12(2), 131–146.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
The author who published an article in the Madah journal has agreed on the following points.
- Author retain copyright and grant the journal of first publication with the work simultaneously licenced under Creative Commons Atribution Licence (CC BY-NC-SA 4.0) that allows other to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are allowed to publish articles that have been published by the Journal of Madah through separate contractual agreements for non-exclusive dissemination (e.g, placing them into an institutional repository or publishing them in a book) by keeping the first issue in the Madah journal.
- Authors are permitted and encouraged to disseminate their work in cyberspace (e.g, in institutional repositories or author pages) before and during the submission of the text document as it can support productive exchange of earlier and broader credits.







