KAJIAN LANSKAP LINGUISTIK: NAMA TOKO DAN RESTORAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS MULTIKULTURAL DI PRINGSEWU, LAMPUNG
DOI:
https://doi.org/10.31503/madah.v16i2.1257Kata Kunci:
pringsewu, multikultural, lanskap linguistikAbstrak
Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa pada nama toko dan restoran di Kabupaten Pringsewu melalui perspektif Lanskap Linguistik (Landry & Bourhis, 1997). Tujuan penelitian adalah memahami karakteristik wilayah multikultural Kabupaten Pringsewu, Lampung, berdasarkan penamaan toko dan restoran di Jalan Lubtas. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus melalui observasi, dokumentasi, kuesioner, dan analisis tematik (Braun & Clarke, 2006). Hasil penelitian menunjukkan terdapat fungsi informasi nama usaha—identitas produk dan pemilik usaha—dan fungsi simbolik yang menampilkan identitas budaya: pronomina lokal seperti mas, abang, atau teteh; nama daerah di Pulau Jawa: Sidoharjo, Yogyakarta, dsb.; objek arsitektural; dan pewarisan nenek moyang—adanya nama restoran Gajah Mada dengan tujuan melestarikan sejarah Indonesia. Melalui penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pemilihan bahasa pada nama toko dan restoran di Pringsewu memiliki banyak variasi. Bahasa bukan hanya digunakan sebagai strategi komersial, tetapi juga digunakan sebagai identitas sosial, sarana pembelajaran, dan pembangun keakraban. Variasi penamaan tersebut diciptakan oleh pihak swasta sehingga membentuk penanda bottom-up yang menunjukkan tidak adanya regulasi tertentu dari pemerintah dalam penamaan toko dan restoran (Ben-Rafael, 2006).Referensi
Backhaus, P. (2007). Linguistic landscapes: A comparative study of urban multilingualism in Tokyo. Zabrodskaja, A (Ed.). Tokyo: MPG Books Ltd.
Ben-Rafael, E., Shohamy, E., Amara, M. H., & Trumper-hect, N. (2006). Linguistic landscape as symbolic constructions of public space: The case of Israel. International journal of multilingualism, 2006.
Ervianti, R. (2024). Variasi penggunaan bahasa pada papan nama usaha tape dan oleh-oleh di kabupaten bondowoso, kabupaten jember, dan kabupaten situbondo. (Skripsi). Universitas Brawijaya : Malang.
Fadillah, A., & Cholsy, H. (2023). The Linguistic Landscape of The Eatery Names in The City of Bandar Lampung. Proceedings of the Critical Island Studies 2023 Conference (CISC 2023), 200–210. https://doi.org/10.2991/978-2-38476-186-9_21
Gorter, D. (2006). Linguistic landscape: A new approach to multilingualism.
Clevedon: Multilingual Matters. https://doi.org/10.21832/9781853599170
Landry, R., & Bourhis, R. Y. (1997). Linguistic landscape and ethnolinguistic vitality: An empirical study. Journal of language and social psychology, 16(1), 23–49. https://doi.org/10.1177/0261927X970161002
Listyawan, A. (2023). Lanskap linguistik di museum de tjolamadoe karanganyar:
Kajian sosiolinguistik. (Skripsi). Universitas Brawijaya : Malang.
Malabar, S. (2015). Sosiolinguistik. Gorontalo: Ideas Publishing.
Utomo, K. F., & Yannuar, N. (2023). Linguistics landscape in mojokerto: Use of language on the majapahit kingdom site. SUAR BETANG, 18(2), 277–290. https://doi.org/10.26499/surbet.v18i2.13348
Wijaya, T., & Savitri, A. D. (2021). Penamaan Kedai Kopi di Trenggalek Kota: Kajian Lanskap Linguistik. Bapala, 8(7), 57–70.
Wulansari, D. (2020). Linguistik Lanskap di Bali: Tanda Multilingual dalam Papan Nama Ruang Publik. Kredo, 3, 420–429. https://jurnal.umk.ac.id/index.php/kredo/index
Yoniartini, D. (2021). Lanskap Linguistik Kawasan Pusat Pendidikan di Kota Mataram. Jurnal Ilmiah Telaah, 6, 162–168.
##submission.downloads##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Bazzam Ridzwan

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
The author who published an article in the Madah journal has agreed on the following points.
- Author retain copyright and grant the journal of first publication with the work simultaneously licenced under Creative Commons Atribution Licence (CC BY-NC-SA 4.0) that allows other to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are allowed to publish articles that have been published by the Journal of Madah through separate contractual agreements for non-exclusive dissemination (e.g, placing them into an institutional repository or publishing them in a book) by keeping the first issue in the Madah journal.
- Authors are permitted and encouraged to disseminate their work in cyberspace (e.g, in institutional repositories or author pages) before and during the submission of the text document as it can support productive exchange of earlier and broader credits.







