Keanekabahasaan dalam Novel Orang-Orang Oetimu Karya Felix K. Nesi (Kajian Sosiolinguistik)
DOI:
https://doi.org/10.31503/madah.v13i2.463Kata Kunci:
keanekabahasaan, Orang-Orang Oetimu, kajian SosiolingistikAbstrak
Puncak penelitian ini, menemukan keanekabahasaan dalam novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Analisis kajian tentang keanekabahasaan dalam novel Orang-Orang Oetimu sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk menemukan gambaran keanekabahasaan dalam karya sastra. Keanekabahasaan dapat dimaknai sebagai keberagaman bahasa atau macam-macam bahasa yang digunakan dalam wilayah tertentu. Dalam analisis-kajiannya peneliti memakai sosiolinguistik sebagai pisau ungkap keanekabahasaan. Metode deskriptif kualitatif dipilih sebagai metode penelitian dengan objek kajian berupa novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Metode pengumpulan data menggunakan studi pustaka dengan teknik deskriptif analitis sebagai teknik analisis data. Hasil temuan peneliti menunjukkan keanekabahasaan dalam Orang-Orang Oetimu, meliputi: (i) bahasa Uab Meto, (ii) bahasa Kupang, (iii) bahasa Tetun, dan (iv) bahasa Melayu Timor. Temuan analisis tersebut menegaskan, keanekabahasaan dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti: penjajahan bangsa asing, letak geografis, persamaan ras, kesepakatan kelompok, dan sebagainya.Referensi
Aminuddin. (1990). Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Fernandes, Inyo Nyos. (1994). Beberapa Catatan Tentang Bahasa Melayu Dili: Studi Awal Mengenai Bahasa Melayu di Timor Timur. Jurnal Humaniora, (1) : 29-34.
Fitriani, Yetri, dkk. (2017). Bahasa Pedagang Ikan di Pasar Panorama Bengkulu (Kajian Sosiolinguistik). Jurnal Korpusensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya, 1 (1): 118-131.
Frenita, Joâo Câncio dan M.R.C Yenny Susilowati. (2019). Bahan Belajar Bahasa Asing Pendukung Diplomasi Kebahasaan: Bahasa Tetun, Bahasa Sahabatku. Jakarta: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbu kuan Kemendikbud.
Hajar, Siti dan Heni Purniawati. (2020). Idiom Bahasa Dawan Dialek Amanuban di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jurnal Deiksis, 12 (03): 280-295.
Inderasari, Elen, dkk. 2020. Variasi Bahasa Slang dalam Talkshow “Hitam Putih†Trans7. LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan, 15 (1): 11-22.
Nesi, Felix K. (2019). Orang-Orang Oetimu. Tangerang Selatan: Marjin Kiri.
Siswantoro. (2013). Metode Penelitian Sastra: Analisis Struktur Puisi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumarsono dan Paina Partana. (2004). Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA.
Tenis, Horiana Ilyadim, dkk. (2018). Peran Semantis Argumen Klausa Verba Bahasa Dawan Dialek Amanuban. SASDAYA: Gadjah Mada Journal of Humanities, 2 (2): 369-392.
Wahyuni, Sri, Rina Marnita, dan Fajri Usman. (2020). Makian Referen Keadaan dalam Bahasa Melayu Jambi di Muara Bungo: Kajian Sosiolinguistik. Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra, 11 (2): 131-140.
##submission.downloads##
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2023 Sri Wahyuni, Wahyu Widayati

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
The author who published an article in the Madah journal has agreed on the following points.
- Author retain copyright and grant the journal of first publication with the work simultaneously licenced under Creative Commons Atribution Licence (CC BY-NC-SA 4.0) that allows other to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are allowed to publish articles that have been published by the Journal of Madah through separate contractual agreements for non-exclusive dissemination (e.g, placing them into an institutional repository or publishing them in a book) by keeping the first issue in the Madah journal.
- Authors are permitted and encouraged to disseminate their work in cyberspace (e.g, in institutional repositories or author pages) before and during the submission of the text document as it can support productive exchange of earlier and broader credits.







