CAHAYA “KUNANG-KUNANG DI LANGIT JAKARTA”

Penulis

  • Dessy Wahyuni Balai Bahasa Provinsi Riau

DOI:

https://doi.org/10.31503/madah.v4i2.87

Kata Kunci:

concretization, semiotic approach, structural analysis, May 1998 riots

Abstrak

Concretization is an expression meaning of the text as a whole. The meaning of the signs presented by the author is not an absolute truth. The generated meaning depends on the reader horizon which formed by the literary competence of readers. Through a semiotic approach, the short story entitled "Kunang-Kunang di Langit Jakarta". Agus Noor's work was made concrete to get the hidden meaning behind the story, so that the work becomes an aesthetic object. By using structural analysis through descriptive analysis method, this study reveals a view of the author about the events that occurred in Indonesia, the May 1998 riots. Konkretisasi merupakan pengungkapan makna teks secara keseluruhan. Pemaknaan terhadap tanda-tanda yang disuguhkan pengarang bukanlah sebuah kebenaran mutlak. Makna yang dihasilkan bergantung pada horizon pembaca yang terbentuk oleh kompetensi kesastraan pembaca. Melalui pendekatan semiotik, cerpen yang berjudul “Kunang-Kunang di Langit Jakarta†karya Agus Noor ini dikonkretkan untuk mendapatkan makna yang terselubung di balik cerita, sehingga menjadi objek yang estetis. Dengan menggunakan analisis struktural melalui metode deskriptif analitis, kajian ini mengungkapkan pandangan pengarang tentang sebuah peristiwa yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu kerusuhan Mei 1998.

Referensi

Audra B., Billy. 2010. “Apa yang Membuat Kunang-kunang Menyala?†(www.inilah.com, diakses 20 Oktober 2013).

Bramantio. 2010. “Suara-suara Perempuan yang Terbungkam dalam Sihir Perempuan†(dalam Dari Zaman Citra Citra ke Metafiksi: Bunga Rampai Telaah Sastra DKJ. Nurzain Hae [ed.]). Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: PT Gramedia.

Mahayan, Maman S. 2012. Pengarang Tidak Mati: Peranan dan Kiprah Pengarang Indonesia. Bandung: Penerbit Nuansa.

Mahayana, Maman S. 2005. Sembilan Jawaban Sastra Indonesia. Jakarta: Bening Publishing.

Mahayana, Maman S. 2006. Bermain dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Noor, Agus. 2012. “Kunang-Kunang di Langit Jakarta†(dalam Dari Salawat Dedaunan Sampai Kunang-Kunang di Langit Jakarta, Putu Fajar Arcana [ed.]). Jakarta: Kompas.

Nyoman, Kutha Ratna. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Respektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Octaviany, Karlina dan Amal Nur Ngazis. 2013. “Makna di Balik Cahaya Kunang-kunangâ€.(forum.viva.co.id, diakses 20 Oktober 2013).

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setiawan, Hawe (Ed.). 1999. Negeri Dalam Kobaran Api. Jakarta: Lembaga Studi Pers dan Pembangunan.

Teeuw, A. 1980. Tergantung pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya.

Teeuw, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Kerusuhan Mei 1998. (http://id.wikipedia.org/ wiki/Kerusuhan_Mei_1998, diakses 15 Februari 2012).

→ikipedia. 2011. “Resepsi Sastraâ€. (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Resep -si_sastra, diakses 4 Agustus 2011).

→ikipedia. 2013. “Kunang-kunangâ€. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kunang -kunang, diakses 20 Oktober 2013).

Zoest, Aart Can. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

##submission.downloads##

Diterbitkan

2013-10-24

Cara Mengutip

Wahyuni, D. (2013). CAHAYA “KUNANG-KUNANG DI LANGIT JAKARTA”. Madah: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 4(2), 193–207. https://doi.org/10.31503/madah.v4i2.87

Terbitan

Bagian

Articles